Langkah Stan Kroenke Sang Owner Selamatkan Arsenal dari Krisis dan Kembalikan ke Jalur Juara

Posted on

Langkah Stan Kroenke Sang Owner Selamatkan Arsenal dari Krisis dan Kembalikan ke Jalur Juara – Bagi orang yang tidak menggemari klub sepak bola Arsenal, setelah membaca judul tulisan khususnya yang menekankan pada kata “juara” akan tertawa terbahak-bahak, menyinyir, bahkan dikatakan mimpi siang bolong. Tidak salah mengingat Arsenal selalu kalah bersaing di 3 kompetisi yang diikutinya pada periode kompetisi. Di Liga Inggris, posisinya saat ini hanya berada di posisi ke 9. Dengan sisa 3 pertandingan setelah melewati 35 pertandingan, untuk mencapai 5 besar secara matematis sulit.

Langkah Stan Kroenke Sang Owner Selamatkan Arsenal dari Krisis dan Kembalikan ke Jalur Juara

Langkah Stan Kroenke Sang Owner Selamatkan Arsenal dari Krisis dan Kembalikan ke Jalur Juara

Di Liga Eropa, sebuah lomba kelas dua yang mempertemukan klub-klub tingkat menengah di Eropa, Arsenal sudah terdepak setelah kalah dari Olympiakos. Kesempatan terakhir ada pada Piala FA, namun peluangnya kecil mempertimbangkan lawannya nanti adalah Manchester City di mana dalam beberapa pertemuan terakhir Arsenal tidak bisa mengalahkannya. Namun bagi penggemar Arsenal yang mengikuti perkembangan klub tidak hanya tentang lapangan bolanya saja, harapan untuk Arsenal menjadi lebih baik masih ada karena sang pemilik, Stan Kroenke, tidak tinggal diam.

Covid-19 merupakan mimpi buruk bagi sebagian besar perusahaan seluruh dunia, termasuk klub-klub sepakbola. Namun untuk Arsenal, Covid-19 ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Sebelum pandemi ini terjadi, sebetulnya Arsenal sedang dalam periode krisis seiring dengan terus menurunnya prestasi di lapangan sepakbola dan gonjang-ganjing Manajemen yang mengikuti. Semua akar masalah bermula dari 4 tahun yang lalu, di mana untuk pertama kalinya dalam 16 tahun, Arsenal tidak masuk 4 besar.

Seluruh penggemar Liga Inggris tahu jika sebuah klub sepak bola Inggris tidak mampu menempati 4 besar, kesempatan untuk mendapatkan pendapatan sangat besar melalui pembayaran hak siar televisi, hadiah dan sponsorship hilang seketika. Belum lagi hilang juga kesempatan untuk bermain di Liga Champions atau kompetisi antar juara dari negara-negara Eropa yang ikut melipatgandakan pendapatan klub. Dua tahun awal masa suram menghantarkan manager yang paling legenda Arsenal, Arsene Wenger, harus menerima bahwa sudah waktu baginya untuk tidak melanjutkan masa 22 tahun kepemimpinannya di lapangan sepakbola.

Seorang Manager asal Spanyol yang punya prestasi mentereng dari klub Paris Saint Germaint

Sebagai penggantinya, Arsenal menunjuk Unai Emery dan Sevilla pada tanggal 23 Mei 2018. Unai Emery setali tiga uang dengan pendahulunya. Pada musim pertamanya, ia tidak mampu membawa Arsenal menembus 4 besar. Akibatnya kinerja keuangan mencatatkan untuk pertama kalinya sejak 2002, laporan keuangan Arsenal mengalami kerugian sebesar 27,1 juta atau Rp. 443 miliar.

Berbanding terbalik pada tahun sebelumnya yang masih mencatatkan keuntungan sebesar 56,5 juta atau Rp. 1,02 triliun. Walau Arsenal sebetulnya masih mampu meningkatkan pendapatan dari 388,2 juta atau Rp. 7,02 triliun ke 394,7 juta atau Rp. 7,14 triliun, namun peningkatannya tidak cukup signifikan untuk menutup kewajiban klub. Biang kegagalan keuangan tentu diakibatkan oleh ketidaksesuaian prestasi yang diharapkan tercapai di lapangan bola dengan pengeluaran yang dilakukan klub.

Dalam menyusun anggaran, Arsenal tampaknya masih tidak banyak mengubah biaya secara signifikan dengan harapan hanya dengan melakukan penunjukan Unai Emery dapat menghantarkan Arsenal masuk ke 4 besar Liga Inggris. Sebagai contoh adalah komponen gaji yang mencapai 51% pengeluaran klub. Arsenal hanya mampu menurunkan biaya gaji dari 204,9 juta atau Rp. 3,7 triliun ke 200,8 juta atau Rp.3,6 triliun.

Di lapangan sepakbola, situasi masih saja sengkarut. Pada 13 laga awal Liga Inggris 2019/20, Arsenal hanya mampu meraih 18 poin. Terburuk setelah 25 tahun! Di setiap laga, Arsenal selalu kebobolan. Tidak mampu menang lawan tim-tim favorit lainnya atau istilahnya “klub enam besar” seperti Manchester United, Manchester City dan Liverpool. Tampak kepayahan juga melawan tim-tim yang sebetulnya di atas kertas Arsenal harusnya menang mudah mengingat materi pemain sepakbolanya termasuk kelas papan atas. Fans sudah lelah dengan cara pemain Arsenal bermain bola yang membosankan dan monoton. Hal ini terlihat dari cemooh yang terus dilontarkan kepada pemain-pemain hingga ke sang manager, Unai Emery.

Rentetan Hasil Buruk Mengantarkan sang manager Unai Emery dipecat tanggal 29 November 2019

Puncaknya, Granit Xhaka yang ditunjuk sebagai kapten lapangan yang harusnya dapat menjadi contoh pada pemain lainnya dan memastikan taktik manager berjalan di lapangan, ribut besar dengan para fans pada pertanding kandang melawan Crystal Palace. Unai Emery akhirnya harus mencopot posisi kapten dari Granit Xhaka untuk mendinginkan suasana antara klub, pemain, dan para fans.

Posisinya digantikan sementara oleh Ljungberg yang kala itu manager Arsenal untuk usia 23. Para pemain pun gelisah. Pemain mega bintang Arsenal seperti Aubameyang akhirnya berpikir dua kali untuk kembali memperpanjang kontraknya yang habis pada tahun 2021.

Puncaknya merupakan Covid-19. Mikel Arteta sebagai manager yang ditunjuk untuk menggantikan Unai Emery pada tanggal 13 Maret 2020 dinyatakan terjangkit penyakit menular tersebut akibat melakukan kontak dengan pemilik klub Olympiakos, Evangelos Mirinakis, yang beberapa hari sebelumnya sudah lebih dahulu dinyatakan positif Covid-19. Peristiwa ini memicu seluruh pertandingan Liga Inggris ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan.

Secara finansial, beban keuangan semakin menggunung. Arsenal menjadi klub terdepan yang melakukan pemotongan gaji pemain sepakbolanya walau sempat adanya penolakan dari beberapa pemain utama. Pemotongan gaji ini diharapkan agar memastikan tidak adanya pemutusan hubungan kerja karyawan-karyawan yang bekerja di Arsenal. Hal ini berbanding terbalik dengan klub-klub kaya seperti Manchester City, Chelsea, dan Manchester United yang tidak melakukan pemotongan gaji pemainnya.

Stan Kroenke mulai menjadi pemilik Arsenal sejak membeli sahamnya pada tahun 2007 bersama-sama dengan Alisher Usmanov di mana Stan Kroenke menjadi pemilik mayoritas. Stan Kroenke tampaknya tidak sanggup menjalin hubungan baik dengan para penggemar Arsenal. Ia selalu dicemooh karena dianggap tidak menanam investasi uang yang banyak pada klub, hanya menjadikan klub sebagai sapi perah keuangan untuk mendukung bisnis globalnya, dan harus bertanggung jawab atas terus menurunnya prestasi Arsenal di lapangan bola.

Semua tampaknya berubah sejak Arsenal sudah tidak mampu bersaing menjadi 4 besar Liga Inggris

Stan Kroenke menginisiasi berbagai langkah-langkah untuk menyelamatkan Arsenal. Secara sederhana, langkah-langkah ini secara berurutan ditujukan pada sektor kepemilikan saham, Manajemen dan pengelolaan klub, dan pengelolaan teknis sepakbola. Walau hanya tiga sektor, tetapi membutuhkan waktu yang tidak sedikit mengingat pihak dan uang yang terlibat sangat besar.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa hubungan antara Stan Kroenke dan Alisher Usmanov tidak terjalin mesra. Bahkan Alisher Usmanov, miliarder asal Rusia ini sering mengkritik terbuka melalui berbagai media tentang Stan Kroenke bahwa rekannya bukan pemilik yang bertanggung jawab dan tidak punya ambisi untuk membangun tim juara. Ia pun berkali-kali juga mengutarakan niatnya untuk dapat membeli saham Stan Kroenke dan menjanjikan investasi besar-besaran agar Arsenal kompetitif.

Ketidakharmonisan hubungan dua miliarder ini berdampak pada pengelolaan klub oleh Manajemen. Arsenal tidak mampu untuk mempertahankan pemain-pemain bintangnya seperti Van Persie, Cesc Fabregas. Akibatnya tiap tahun tim sepak bola kehilangan daya saingnya. Agar permasalahan selesai dan Stan Kroenke bisa menerapkan visi serta langkah-langkah strategisnya, ia menawarkan untuk membeli saham Arsenal yang dimiliki Alisher Usmanov. Kesepakatan tercapai dan di bulan Agustus 2018 diumumkan ke publik.

Stan Kroenke menjadi pemilik tunggal Arsenal setelah mengeluarkan dana sebesar 550 million atau sebesar Rp. 10 triliun untuk membeli saham. Sejak itu fokusnya ditujukan kepada Manajemen dan pengelolaan klub.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *